SAMBAS, JEJARING KALBAR – Pembukaan Gawai Dayak ke-XIX Kabupaten Sambas Tahun 2026 di Rumah Adat Ramin Bantang Nek Riuh, Desa Sungai Rambah menjadi momentum penting dalam menjaga kelestarian budaya, memperkuat nilai adat, serta mempertahankan eksistensi masyarakat Dayak di Kabupaten Sambas.
Hal itu disampaikan tokoh perempuan Dayak Kecamatan Subah yang juga Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Sambas, Melani Astuti, saat menghadiri pembukaan kegiatan budaya tahunan tersebut.
“Gawai Dayak bukan sekadar perayaan adat, tetapi simbol jati diri dan kebersamaan masyarakat Dayak di Kabupaten Sambas. Tradisi ini harus terus dijaga karena di dalamnya ada nilai gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, serta kekayaan budaya yang menjadi identitas kita bersama,” ujar Melani.
Menurutnya, pelaksanaan Gawai Dayak juga menjadi ruang penting untuk memperkuat keberadaan masyarakat Dayak agar tetap tumbuh dan dihargai di tengah perkembangan zaman.
“Budaya Dayak harus tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda. Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal budaya dari luar, tetapi justru melupakan akar budaya sendiri. Karena itu, kegiatan seperti Gawai Dayak sangat penting untuk menjaga nilai, identitas, dan keberadaan masyarakat Dayak di Sambas,” katanya.
Melani juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Ketua DAD Kabupaten Sambas, Mardirius Lope beserta seluruh panitia dan masyarakat adat yang telah bekerja keras menyukseskan pelaksanaan Gawai Dayak ke-XIX Kabupaten Sambas Tahun 2026.
“Kami sangat mengapresiasi kerja keras Dewan Adat Dayak Kabupaten Sambas dan seluruh pihak yang terlibat. Ini bukti bahwa semangat menjaga budaya masih sangat kuat di tengah masyarakat,” ucapnya.
Selain itu, politisi Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut turut menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tamu undangan dari tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang dinilai menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Dayak di Kabupaten Sambas.
“Terima kasih atas kehadiran para tokoh dari Kalimantan Barat. Kehadiran ini menjadi penyemangat bagi masyarakat Dayak di Sambas untuk terus menjaga adat, budaya, dan nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan leluhur,” tutupnya. ***












