Sambas

Kisah Pilu Mantan Kepsek di Sambas, Korupsi Dana BOS Bikin Sakit Tulang

×

Kisah Pilu Mantan Kepsek di Sambas, Korupsi Dana BOS Bikin Sakit Tulang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Dana BOS
Ilustrasi Dana BOS/Sumber Internet

SAMBAS, JEJARING KALBAR – Di salah satu sudut ruang perawatan RSUD Pemangkat, Kabupaten Sambas, seorang pria paruh baya terbaring lemah. Tubuhnya yang dahulu tegap saat memimpin sekolah dasar, kini hanya menyisakan tulang dan kulit, terkikis penyakit yang perlahan menggerogoti kehidupannya.

Ia meminta agar namanya disamarkan. “Biar saya saja yang menanggung aib ini,” ucapnya lirih, menatap langit-langit putih ruangan penyakit dalam. Ia adalah mantan kepala sekolah dasar yang kini menyesali satu per satu langkah keliru yang pernah ia ambil selama menjabat.

Sudah dua tahun ia sakit. Awalnya hanya keluhan lemas dan nyeri tulang pinggul. Namun seiring waktu, tubuhnya menyerah. Kini ia harus menjalani cuci darah rutin, ginjalnya rusak, sumsum tulang tidak memproduksi sel darah merah, dan dokter memvonisnya mengidap kanker tulang.

Namun yang lebih perih dari rasa sakit fisik, katanya, adalah luka batin dari rasa bersalah. Itulah mengapa, ia merasa hidup enak saat punya jabatan kecil tidak sebanding dengan penderitaan yang dirasakan masa tua.

Burung Pipit Makan Berujan

Dengan suara terputus-putus, ia mengisahkan kebiasaan buruk yang ia anggap sepele namun berujung menjadi beban hidup: menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk keperluan pribadi selama bertahun-tahun.

“Awalnya hanya pinjam dulu, nanti diganti waktu BOS cair,” ujarnya. Ia mengaku sering memesan alat tulis dan perlengkapan sekolah di toko langganan dengan sistem utang. Tapi yang membuatnya terperosok adalah, barang-barang itu tidak sepenuhnya untuk sekolah.

“Kadang beli pakaian olahraga, alat elektronik, bahkan pinjam uang tunai, semua atas nama sekolah. Pernah juga saya bayar token listrik rumah pakai uang BOS,” katanya menyesal.

Laporan pertanggungjawaban dimanipulasi. Hutang pribadi ditulis sebagai tanggungan sekolah. Tahun berganti, jabatan tetap ia emban, tapi utang terus menumpuk. Seperti pepatah, “gali lubang, tutup lubang,” ia menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lain. Seperti burung pipit makan saat hujan, tidak tampak dari luar tapi padi habis tak ketahuan.

Karma Utang Bikin Sakit Tulang 

Ketika masa pensiunnya tiba, ia tidak hanya meninggalkan jabatan dan seragam dinas, tetapi juga mewariskan utang puluhan juta rupiah ke sekolah. Pemilik toko yang dulu menjadi langganannya mulai menagih, tapi pihak sekolah enggan bertanggung jawab. “Itu urusan kepala sekolah lama,” begitu jawab mereka.

Tak tahu harus ke mana lagi, sang pemilik toko akhirnya mencari ke rumah sakit. Tapi saat ia melihat kondisi pria itu terbaring lemah, selang menempel di tangan, wajah pucat tak berdaya, sakit tulang yang ia derita, seolah digerogoti oleh utang. Niat menagih berubah menjadi rasa iba.

Saat itulah, semuanya diceritakan. Bukan sebagai pembelaan, melainkan sebuah pengakuan. Sebuah penyesalan mendalam dari seorang yang pernah punya kuasa, namun lupa bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan alat pemuas kebutuhan pribadi.

Ingat Hukum Tabur Tuai

“Apa yang saya alami sekarang bukan semata penyakit. Ini karma. Dulu saya pikir tak ada yang tahu. Tapi hidup ini menyimpan semua jejak,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, hari-harinya dihabiskan dalam perenungan panjang di atas ranjang rumah sakit. Ia berharap pengakuannya menjadi pelajaran. Bahwa setiap tindakan akan kembali pada pelakunya, cepat atau lambat.

Hidup, katanya, bukan sekadar tentang apa yang tampak. Tapi tentang apa yang ditanam dalam diam. Dan setiap benih, cepat atau lambat, akan tumbuh: menjadi berkah, atau bencana.

“Saya tidak ingin dikasihani. Saya hanya ingin kisah ini jadi cermin bagi yang masih punya kesempatan memperbaiki hidup,” tutupnya. ***

Pewarta: Yak

Catatan Redaksi: Narasumber setuju artikel ini diterbitkan dengan syarat identitasnya disamarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *