KETAPANG, JEJARING KALBAR, – Pihak perusahaan perkebunan Hungarindo Persada menegaskan bahwa kegiatan pemutusan jalan serta pembuatan parit batas di areal kebun dilakukan berdasarkan hasil sosialisasi dan kesepakatan bersama sejumlah pihak terkait.
Corporate Affair Manager Region Sungai Melayu, Romulus, menjelaskan bahwa pemutusan jalan di blok C3/4 telah melalui proses pemberitahuan dan koordinasi sejak awal April 2026.
“Rencana pemutusan jalan ini sudah kami sampaikan sejak tanggal 5 hingga 15 April kepada para kepala desa, pengurus koperasi, tokoh adat, serta dalam forum silaturahmi rutin. Bahkan satu minggu sebelum pelaksanaan juga sudah dipasang plang pemberitahuan,” ujar Romulus, Jumat (1/5/2026).
Ia menambahkan, kegiatan pemutusan jalan yang dilaksanakan pada Kamis, 16 April 2026 tersebut berlangsung aman dan disaksikan oleh berbagai unsur, termasuk perwakilan masyarakat, pengurus koperasi, tim perusahaan, serta humas.
Menurutnya, jalan yang diputus merupakan akses yang sebelumnya dibangun oleh perusahaan, namun kemudian dimanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk aktivitas menuju kawasan hutan produksi (HP), termasuk kegiatan penambangan tanpa izin (PETI).
“Jalan ini sebelumnya digunakan untuk mobilisasi alat, tenaga kerja, BBM, hingga hasil kerja oleh kelompok tertentu di areal HP. Karena itu, perusahaan melakukan penataan dengan membuat batas berupa parit,” jelas Romulus
Romulus juga menegaskan bahwa dari hasil sosialisasi awal, seluruh tokoh masyarakat yang dilibatkan menyatakan persetujuan atas rencana tersebut, dan tidak ada keberatan hingga hari pelaksanaan.
Namun demikian, pasca penutupan akses, muncul keberatan dari organisasi Persatuan Tambang Independen Rakyat (PETIR) Kabupaten Ketapang. Menanggapi hal itu, perusahaan bersama pihak terkait menggelar mediasi pada Senin, 20 April 2026.
Mediasi tersebut dihadiri oleh sejumlah kepala desa, tokoh adat, aparat keamanan, pengurus koperasi, serta perwakilan PETIR. Dalam pertemuan itu, mayoritas peserta menyetujui langkah perusahaan, kecuali Kepala Desa Kepuluk yang menyatakan tidak setuju.
“Dalam mediasi disepakati akan dibuat jalan alternatif sebagai pengganti akses yang diputus. Bahkan direncanakan survei lokasi dilakukan pada 21 April dan pengerjaan dilakukan bersama antara pihak perusahaan dan PETIR,” kata Romulus.
Namun, Romulus menyebutkan pihak PETIR tidak hadir dalam agenda survei yang telah disepakati, dan sejak saat itu komunikasi belum kembali terjalin.
“Kami tetap terbuka untuk komunikasi dan mencari solusi terbaik, terutama agar aktivitas masyarakat tetap berjalan tanpa melanggar ketentuan yang ada,” tutup Romulus. *** (Yoga)












