MEMPAWAH, JEJARING KALBAR – Seorang pemilik angkutan truk asal Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Fauzi, menyatakan dukungannya terhadap rencana aksi demonstrasi Aliansi Sopir di DPRD Mempawah pada 3 Juni mendatang.
Menurut Fauzi, aksi tersebut merupakan bentuk perjuangan sopir kecil yang selama ini kesulitan mendapatkan BBM solar subsidi akibat dugaan praktik penimbunan dan permainan distribusi di lapangan.
“Selagi untuk kepentingan umum, saya sangat mendukung. Yang penting DPRD itu selaku wakil rakyat benar-benar mewakili rakyat,” kata Fauzi, Kamis 28 Mei 2026.
Ia meminta DPRD Mempawah tidak tinggal diam dan segera memanggil pihak terkait, termasuk aparat penegak hukum dan pihak kepolisian, untuk membahas persoalan distribusi solar subsidi yang dinilai semakin meresahkan.
“Surati Kapolres, panggil, ajak berdialog. Tindak lanjut hukumnya harus dijelaskan. Masalah penimbunan BBM itu haknya orang miskin yang disubsidi malah dirampok orang-orang kaya,” tegasnya.
Fauzi mengaku geram karena menurutnya masih banyak kendaraan yang tidak sesuai peruntukan ikut antre solar subsidi hanya untuk ditimbun dan dijual kembali demi keuntungan pribadi.
“Mobil yang tidak ada baknya aja ikut antre demi dapat BBM untuk ditimbun dan dijual,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku siap menunjukkan langsung titik-titik lokasi yang diduga menjadi tempat penimbunan BBM subsidi apabila aparat penegak hukum serius melakukan penindakan.
“Kalau APH masih gelap mata, saya siap menunjukkan tempatnya. Titik-titiknya yang ditimbun itu,” katanya.
Menurut Fauzi, yang membuat para sopir kecewa adalah kesan pembiaran terhadap praktik yang diduga melanggar hukum tersebut.
“Yang sangat kesal itu seolah-olah APH tutup mata, seolah-olah tidak ada pelanggaran hukum di situ,” ucapnya.
Ia juga menyoroti dampak antrean panjang kendaraan di SPBU yang dinilai mengganggu masyarakat dan pengguna jalan lain.
Harapannya, kata dia, solar subsidi benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan untuk bekerja, bukan disalahgunakan oknum tertentu.
“Supaya tepat sasaran, supaya tidak ada macet di depan SPBU yang merugikan pengguna jalan lain dan keselamatan orang lain,” ujarnya.
Fauzi menambahkan, kondisi sulitnya mendapatkan solar subsidi sangat berpengaruh terhadap penghasilan sopir truk. Sementara biaya operasional terus meningkat dan tarif angkutan tidak kunjung naik.
“Harga angkutan tidak kunjung naik. Kalau beli di eceran itu Rp15 ribu per liter, literannya pun tidak cukup,” katanya.
Ia berharap DPRD Mempawah turun langsung ke lapangan melalui inspeksi mendadak lintas komisi untuk melihat kondisi sebenarnya di SPBU.
“Saya mintalah lintas komisi sidak ke bawah, ada apa sebenarnya di SPBU itu. Jangan tutup mata duduk di kursi sofa ber-AC terus. Turunlah ke lapangan,” tegas Fauzi.
Untuk diketahui, rencana aksi Aliansi Sopir di DPRD Mempawah disebut akan membawa tuntutan terkait pengawasan distribusi solar subsidi serta dugaan praktik pelangsiran dan penimbunan BBM di sejumlah SPBU. *** (Bung Ranie)












