Mempawah

Limbah Dapur MBG Cemari Lingkungan, Warga Sungai Batang Mempawah Protes

×

Limbah Dapur MBG Cemari Lingkungan, Warga Sungai Batang Mempawah Protes

Sebarkan artikel ini
Mediasi masalah dapur MBG di Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, yang mencemari lingkungan warga.
Mediasi masalah dapur MBG di Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, yang mencemari lingkungan warga.

SAMBAS, JEJARING KALBAR – Aktivitas dapur MBG, yang dikelola Yayasan Lentera Pangan Borneo di Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, memicu pencemaran lingkungan.

Limbah yang dibuang ke parit dikeluhkan warga karena mencemari air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Persoalan ini dibahas dalam rapat koordinasi di Kantor Desa Sungai Batang, Rabu (15/4/2026), yang dihadiri pemerintah desa, aparat, BPD, pengelola, serta warga terdampak.

Ketua BPD Sungai Batang, Karmiji, menegaskan dirinya berbicara dalam kapasitas sebagai warga yang terdampak langsung, bukan sebagai lembaga. Ia menyebut keluhan sudah muncul dari masyarakat sebelum akhirnya dibahas dalam forum resmi.

“Saya ini juga warga yang terdampak. Air parit sekarang berubah, dari warna sampai baunya menyengat. Bahkan aromanya masuk ke dalam rumah,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat mengganggu karena parit masih menjadi sumber air utama warga untuk mandi, mencuci, hingga berwudhu. Ia juga menyoroti dampak terhadap kolam warga yang kini berbau dan tidak lagi jernih.

“Yang kasihan, ada warga yang mengajar ngaji, anak-anak mandi dan wudhu di parit itu. Sekarang kondisinya sudah tercemar,” katanya.

Kepala Desa Sungai Batang, Mahyus, menegaskan pembuangan limbah ke parit harus dihentikan. Ia menilai sistem pengolahan limbah yang ada belum berjalan efektif.

“Air limbah yang dialirkan masih kotor. Dampaknya dirasakan warga hingga radius sekitar 200 meter,” tegasnya.

Mahyus menambahkan, warga tidak memiliki alternatif sumber air karena belum tersedianya layanan PDAM, sehingga pencemaran ini langsung berdampak pada kebutuhan dasar masyarakat.

Pemerintah desa meminta pengelola segera melakukan perbaikan dan memastikan tidak ada lagi limbah yang mengalir ke lingkungan permukiman, terutama menjelang musim hujan yang berpotensi memperparah kondisi.

Meski demikian, operasional dapur MBG diharapkan tetap berjalan dengan syarat pengelolaan limbah dibenahi secara serius.

Perwakilan Yayasan Lentera Pangan Borneo, Ferdian, menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan siap menindaklanjuti keluhan warga sesuai regulasi.

Sementara itu, pihak mitra MBG, Syahrul, mengakui adanya kelemahan pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL), termasuk kebocoran, dan memastikan perbaikan segera dilakukan. *** (Bung Ranie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *