Mempawah

Keluarga Histeris, Bocah 7 Tahun di Sungai Pinyuh Meninggal Tenggelam

×

Keluarga Histeris, Bocah 7 Tahun di Sungai Pinyuh Meninggal Tenggelam

Sebarkan artikel ini
Suasana rumah duka anak tenggelam di Kampung Api Api Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalbar.
Suasana rumah duka anak tenggelam di Kampung Api Api Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalbar/Foto Jejaring Kalbar

SUNGAI PINYUH , JEJARING KALBAR – Suasana duka menyelimuti Kampung Api Api RT 06/RW 02, Kelurahan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, setelah seorang anak laki-laki berusia 7 tahun ditemukan meninggal dunia tenggelam, Selasa 19 Mei 2026.

Korban diketahui merupakan siswa kelas 1 SD dan anak pertama dari pasangan Rio Ramadhan dan Ulan. Peristiwa tragis itu membuat keluarga korban terpukul, terlebih korban dikenal masih kecil dan belum pandai berenang.

Berdasarkan keterangan saksi mata sekaligus warga yang menolong korban, Agusnadi, korban diketahui pergi mandi sekitar pukul 16.00 WIB bersama sejumlah anak lainnya di lokasi yang memang kerap digunakan anak-anak untuk berenang setiap hari.

“Memang setiap hari anak-anak kecil mandi di situ,” ujar Agusnadi.

Awalnya, tidak ada yang menyadari korban hilang karena banyak anak bermain di sekitar lokasi. Namun menjelang pukul 17.00 WIB, dua orang teman korban yang merupakan anak kembar mulai mencari korban dan menyadari ia tidak lagi terlihat di permukaan air.

“Hampir jam 5 sore baru ketahuan dia hilang, saat si kembar ini mencarinya. Lalu orang sekitar panik karena mereka memberitahu warga,” katanya.

Warga kemudian beramai-ramai melakukan pencarian. Ada yang menyisir dari tepian sungai, ada pula yang berenangu menyelam mencari tubuh korban.

“Tadi banyak sekali orang mencari korban, ada yang dari atas, ada yang berenang, macam-macam,” ungkap Agusnadi.

Setelah dilakukan pencarian cukup lama, tubuh korban akhirnya ditemukan di Gang Gusti Palembang, sekitar 200 meter dari titik awal diduga hilang, tepat di dekat pojokan pohon kelapa.

“Posisinya saat ditemukan kepalanya yang timbul. Jauh sekali titiknya dari dia hilang sampai ditemukan, sekitar 200 meter,” ujarnya.

Agusnadi mengatakan dirinya menjadi orang yang mengangkat tubuh korban dan membawanya pulang ke rumah duka. Saat ditemukan, kondisi korban sudah tidak bernyawa.

“Saya yang angkat korban bawa ke rumahnya. Saat itu kondisinya sudah membiru, sudah meninggal dunia. Waktu saya angkat keluar air dari mulut dan hidungnya, tapi tidak terlalu banyak. Perutnya juga tidak kembung,” katanya.

Ia juga memastikan peristiwa tersebut murni kecelakaan tenggelam dan tidak berkaitan dengan hal lain.

“Tidak ada kemungkinan dimakan buaya atau apa pun. Ini murni kecelakaan tenggelam,” tegas Agusnadi.

Menurutnya, korban memang tidak pandai berenang, berbeda dengan dua temannya yang selamat karena mampu berenang. *** (Bung Ranie)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *