MEMPAWAH, JEJARING KALBAR, – Kelangkaan solar subsidi sudah lama dikeluhkan para sopir angkutan dan pekerja lapangan di Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalbar.
Antrean kendaraan di sejumlah SPBU disebut semakin panjang, bahkan aktivitas pengisian BBM disebut mulai mengganggu fungsi fasilitas umum seperti di Terminal Sungai Pinyuh.
Fauzi, warga Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh yang bekerja sebagai sopir pengangkut tanah dan batu, mengaku kesulitan memperoleh solar untuk operasional truk miliknya. Menurut dia, pengguna kecil justru paling terdampak dalam situasi sekarang.
“Kadang kami harus antre lama, bahkan tidak selalu dapat. Kalau pengguna kecil seperti kami, isi solar bisa dua sampai tiga hari sekali,” ujarnya, Senin 18 Mei 2026.
Ia mengatakan kondisi itu membuat biaya operasional angkutan meningkat. Di sisi lain, sebagian sopir terpaksa membeli solar eceran dengan harga lebih tinggi demi tetap bekerja.
“Kalau beli eceran, harganya bisa jauh di atas harga subsidi, tembus Rp15 ribu sampai Rp17 ribu per liter, ” katanya.
Fauzi juga menyoroti antrean kendaraan yang dinilai semakin tidak terkendali. Ia berharap distribusi BBM subsidi dapat diawasi lebih ketat agar benar-benar dinikmati masyarakat yang membutuhkan.
Menurutnya, pemerintah dan aparat terkait perlu melakukan pengawasan rutin untuk mencegah dugaan penyalahgunaan distribusi solar subsidi.
“Harapannya ada penertiban dan pengawasan yang merata supaya antrean tidak makin panjang dan pengguna kecil tidak kesulitan,” tuturnya.
Keluhan serupa sebenarnya mulai banyak disampaikan sopir angkutan dan pekerja lapangan lain. Tidak hanya di Sungai Pinyuh, bahkan se Kalimantan Barat.
Mereka berharap ada solusi konkret agar distribusi solar subsidi lebih tepat sasaran dan aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu akibat sulitnya memperoleh BBM. *** (Bung Ranie)












