Mempawah

Dikeluhkan Cemari Lingkungan, BGN Tutup Sementara SPPG Sungai Batang Pinyuh

×

Dikeluhkan Cemari Lingkungan, BGN Tutup Sementara SPPG Sungai Batang Pinyuh

Sebarkan artikel ini
SPPG Sungai Batang Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah
SPPG Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalbar/Foto Jejaring Kalbar

MEMPAWAH, JEJARING KALBAR – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Kebijakan ini tertuang dalam surat resmi BGN Nomor 1710/D.TWS/04/2026 tertanggal 18 April 2026.

Penghentian dilakukan menyusul laporan dugaan pencemaran air limbah yang viral di masyarakat, serta hasil investigasi awal di lapangan dan laporan Koordinator Regional Kalimantan Barat kepada pimpinan BGN.

Operasional baru dapat dilanjutkan setelah dinyatakan memenuhi ketentuan sesuai regulasi, termasuk mengacu pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang petunjuk teknis Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tahun Anggaran 2026.

Kepala Desa Sungai Batang menyatakan pihaknya mendukung langkah tersebut sebagai upaya perbaikan.

“Kita menyambut baik atas ditutup sementara dapur MBG ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan nya, dan berharap juga MBG tersebut segera beroperasi karena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak bangsa, khususnya Desa Sungai Batang,” ujarnya, Sabtu 18 April 2026.

Sebelumnya diberitakan, aktivitas dapur MBG, yang dikelola Yayasan Lentera Pangan Borneo di Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, memicu pencemaran lingkungan. Limbah yang dibuang ke parit dikeluhkan warga karena mencemari air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Persoalan ini dibahas dalam rapat koordinasi di Kantor Desa Sungai Batang, Rabu (15/4/2026), yang dihadiri pemerintah desa, aparat, BPD, pengelola, serta warga terdampak.

Ketua BPD Sungai Batang, Karmiji, menegaskan dirinya berbicara dalam kapasitas sebagai warga yang terdampak langsung, bukan sebagai lembaga. Ia menyebut keluhan sudah muncul dari masyarakat sebelum akhirnya dibahas dalam forum resmi.

“Saya ini juga warga yang terdampak. Air parit sekarang berubah, dari warna sampai baunya menyengat. Bahkan aromanya masuk ke dalam rumah,” ujarnya. *** (Yak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *