SAMBAS, JEJARING KALBAR – Sistem produksi garam menggunakan teknologi tunnel di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, dinilai memiliki prospek menjanjikan untuk dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat pesisir. Teknologi tersebut memungkinkan petambak tetap memproduksi garam meski menghadapi perubahan cuaca.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perikanan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan (PPKH) Kabupaten Sambas, Hendy Wijaya, saat meninjau lokasi produksi garam di Temajuk dalam rangkaian kegiatan Gema Membangun Desa (GMD) Temajuk 2026.
Hendy mengatakan sistem tunnel menjadi keunggulan karena proses produksi tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca seperti metode konvensional.
“Dengan sistem tunnel ini, panen tidak terlalu terpengaruh oleh musim. Saat hujan maupun panas, produksi tetap bisa berjalan sehingga petani garam memiliki kepastian yang lebih baik dibandingkan sistem terbuka,” ujarnya.
Menurut Hendy, saat ini baru terdapat dua kelompok usaha garam yang menerapkan sistem tersebut di Kecamatan Paloh. Meski jumlahnya masih terbatas, hasil yang diperoleh menunjukkan potensi pengembangan yang cukup besar.
Ia menjelaskan, dari dua kelompok tersebut saat ini tersedia empat meja garam yang digunakan untuk produksi. Setiap meja memiliki kapasitas produksi sekitar dua ton garam per bulan.
“Sekarang baru ada empat meja garam dari dua kelompok yang beroperasi. Satu meja mampu menghasilkan sekitar dua ton per bulan, sehingga total produksi saat ini mencapai delapan ton garam setiap bulan,” katanya.
Hendy menilai angka tersebut cukup menjanjikan mengingat usaha garam tunnel di Paloh masih berada pada tahap pengembangan. Ke depan, pemerintah daerah akan terus mendorong peningkatan kapasitas produksi melalui pendampingan dan penguatan sarana pendukung.
Selain memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir, pengembangan garam tunnel juga dinilai dapat mendukung ketahanan ekonomi desa perbatasan. Dengan sistem produksi yang lebih stabil, pelaku usaha memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.
“Potensi ini perlu terus kita dorong. Jika jumlah kelompok dan meja produksi bertambah, tentu kapasitas produksi juga akan meningkat dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya. ***












