SUNGAI PINYUH, JEJARING KALBAR – Suasana haru menyelimuti halaman Polsek Sungai Pinyuh ketika AKP Bambang Siswanto berdiri di hadapan rekan-rekannya. Tak ada lagi instruksi atau pengarahan tugas. Kali ini, ia datang untuk berpamitan, menutup perjalanan panjangnya sebagai anggota Polri yang telah ia jalani sejak usia muda.
Lahir pada 14 April 1968, Bambang bukan sosok yang datang ke dunia kepolisian secara kebetulan. Sejak kecil, seragam cokelat itu sudah menjadi cita-citanya. Lingkungan keluarga yang lekat dengan dunia militer, dari ayah hingga kerabat, membentuk tekadnya.
“Satu kali daftar langsung lulus,” kenangnya singkat, merujuk pada momen saat ia diterima dan menempuh pendidikan di SPN Pontianak pada 1989–1990.
Langkah pertamanya sebagai polisi dimulai jauh dari hiruk-pikuk kota. Putussibau menjadi titik awal pengabdian, tempat ia menjalankan tugas intelijen, mengawasi pergerakan orang asing di wilayah perbatasan. Di sana, ia tak hanya belajar soal tugas, tapi juga tentang bertahan hidup dalam keterbatasan.

Listrik, misalnya, hanya menyala beberapa jam dalam sehari. Selebihnya, sunyi dan gelap menjadi teman. Namun justru di tempat seperti itu, Bambang menempa mentalnya sebagai polisi lapangan.
Pengalaman ekstrem pun pernah ia rasakan. Ia masih mengingat jelas saat banjir besar melanda Putussibau. Air naik perlahan hingga mencapai leher orang dewasa.
“Banjir terbesar sampai leher. Kami sampai pakai batang pisang untuk pelampung,” ujarnya, menggambarkan kondisi yang jauh dari kata normal.
Kariernya kemudian berkelindan di berbagai fungsi, dari Bimas, Sabhara, hingga Reskrim. Ia juga sempat berpindah tugas ke sejumlah wilayah seperti Mempawah dan Ngabang. Namun, salah satu bab paling berkesan dalam hidupnya justru ia temukan di Sungai Pinyuh, tempat ia mengabdi cukup lama.
Di sana, Bambang bukan hanya aparat. Ia menjadi bagian dari komunitas. Ia bermain musik bersama rekan-rekan Bhayangkara, bahkan belajar menyanyikan lagu Mandarin, sesuatu yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tepuk tangan penonton menjadi salah satu kenangan manis yang ia simpan hingga kini.
“Di situ kebersamaan terasa sekali,” katanya.
Namun perjalanan panjang itu tentu tak selalu berisi cerita hangat. Ia juga berhadapan langsung dengan berbagai kasus kriminal, termasuk tindak kekerasan yang menguras tenaga dan pikiran. Baginya, menjadi polisi bukan sekadar pekerjaan, melainkan kesiapan menghadapi risiko kapan saja.
Kini, di usianya yang menginjak 58 tahun, Bambang sampai di ujung pengabdian. Masa tugasnya resmi berakhir sekitar 1 Mei. Tak ada kata-kata muluk dalam perpisahannya, hanya pesan sederhana yang lahir dari pengalaman puluhan tahun di lapangan.
“Jaga disiplin, jaga kesehatan, fisik dan mental. Dan yang paling penting, jauhi narkoba,” pesannya kepada anggota yang lebih muda.
Di akhir kalimatnya, suara Bambang sedikit melunak. Ia menunduk sejenak sebelum mengucapkan kata yang paling sulit dalam setiap perpisahan.
“Saya mohon pamit. Kalau selama ini ada kesalahan, saya minta maaf.”
Tak ada tepuk tangan yang riuh, hanya keheningan yang berbicara. Sebab bagi mereka yang hadir, hari itu bukan sekadar perpisahan seorang perwira, melainkan penutup dari sebuah perjalanan hidup yang penuh jejak, luka, dan kenangan. *** (Bung Ranie)












