MEMPAWAH, JEJARING KALBAR – Warga di Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalbar mengeluhkan bau menyengat yang berasal dari limbah dapur MBG.
Dapur MBG tersebut dikelola oleh Yayasan Lentera Pangan Borneo.
Seorang guru ngaji, Saleh, yang menyebut aktivitas sehari-harinya, termasuk kegiatan mengajar ngaji, terganggu akibat aroma busuk yang muncul setiap hari.
Ia mengatakan, kondisi tersebut juga berdampak pada kebutuhan dasar seperti air bersih, yang sebelumnya mudah diperoleh dari parit di depan rumahnya.
Saleh menyebut air parit yang biasa ia digunakan kini tidak lagi layak karena berbau dan tercemar, warnanya kehijauan, tampak kotor sekali.
“Anak-anak yang ngaji, mau ambil wudhu tidak bisa. Saya mau mandi juga susah. Ini sangat mengganggu, belum lagi baunya, minta ampun,” ujarnya.
Ia mengaku terpaksa mencari alternatif sumber air, mulai dari menampung air hujan hingga menggunakan air tempayan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Jadi sekarang harus pintar-pintar cari air, entah air hujan, air tempayan, atau apa saja yang bisa dipakai,” katanya.
Menurutnya, sebelum keberadaan dapur MBG, air parit di Desa Sungai Batang masih jernih dan tidak berbau sehingga bisa dimanfaatkan warga.
Namun kondisi berubah sejak aktivitas dapur MBG tersebut berjalan dua bulan. Satu bulan pertama, belum terasa, bulan kedua, muncul masalah. Karena limbahnya mengalir langsung ke parit.
“Dulu air parit ini saya pakai, jernih dan tidak bau. Sejak ada dapur MBG, baunya busuk sekali, terutama malam dan pagi hari. Sudah tidak tahan lagi saya mencium baunya, kalau malam luar biasa,” ungkapnya.
Ia juga mengaku sempat membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan karena sumber air sekitar tidak lagi bisa digunakan. *** (Yak)












