MEMPAWAH, JEJARING KALBAR — Bupati Mempawah Erlina memimpin Apel Siaga dan Gelar Pasukan Penanganan Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Mempawah Tahun 2026 di Halaman Kantor Bupati Mempawah, Rabu (26/8/2026).
Apel tersebut turut dihadiri Staf Ahli Kasad Brigjen TNI Washington Simanjuntak, Wakil Bupati Mempawah, Sekda Mempawah, Forkopimda, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta personel dan unsur terkait penanganan karhutla.
Dalam amanatnya, Erlina menegaskan apel tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk kesiapsiagaan seluruh unsur dalam menghadapi ancaman karhutla yang dapat menimbulkan bencana asap dan berdampak terhadap kesehatan, lingkungan serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
“Karhutla bukan hanya persoalan api yang harus dipadamkan, tetapi merupakan ancaman terhadap keselamatan masyarakat dan lingkungan yang harus dicegah, dideteksi dan ditangani sedini mungkin,” ujar Erlina.
Erlina menyebut berdasarkan data BPBD Provinsi Kalimantan Barat, luas karhutla sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,86 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 6.144 hektare berada di Kabupaten Mempawah.
Menurutnya, angka tersebut menjadi peringatan bagi seluruh pihak untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
Erlina juga menekankan pentingnya menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto saat melakukan pemantauan dan koordinasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat pada 22 Agustus 2026.
Presiden, kata dia, mengingatkan pentingnya penanganan karhutla secara cepat, terkoordinasi dan langsung di lapangan, dengan memperkuat operasi darat dan udara, kesiapan personel dan peralatan, serta koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri dan seluruh unsur terkait.
“Kita tidak boleh menunggu hotspot berkembang menjadi titik api dan kemudian menjadi kebakaran yang lebih besar,” katanya.
Erlina meminta seluruh jajaran memperkuat deteksi dini dan pemantauan wilayah rawan karhutla, meningkatkan patroli, serta memastikan kesiapan personel dan peralatan pemadaman.
BPBD, pemadam kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kecamatan dan desa, Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga relawan juga diminta memperkuat koordinasi.
“Setiap laporan harus segera ditindaklanjuti dengan prinsip cepat, tepat, terpadu dan terukur,” tegasnya.
Pemerintah desa diminta terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan. Sementara dunia usaha dan perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Mempawah diminta memastikan kesiapan sarana dan prasarana pemadaman di wilayah kerja masing-masing.
Selain penanganan api, Erlina mengingatkan dampak asap terhadap kesehatan masyarakat. Koordinasi dengan sektor kesehatan perlu diperkuat, terutama untuk memberikan perlindungan dan informasi kepada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Ia juga menegaskan pencegahan karhutla harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan secara melanggar ketentuan.
“Cegah sebelum terbakar, deteksi sebelum meluas, dan padamkan sebelum menjadi bencana,” ucapnya.
Erlina mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Mempawah tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun potensi kebakaran.
“Penanganan Karhutla harus dilakukan secara cepat, terkoordinasi dan terpadu. Mari kita pastikan Kabupaten Mempawah menjadi daerah yang siap dan tanggap dalam menghadapi Karhutla,” pungkasnya. *** (Bung Ranie)













