SUNGAI PINYUH, JEJARING KALBAR – Antrean truk pengisi solar di SPBU Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, kacau balau. Kendaraan yang sebelumnya antre di bahu jalan hingga menyebabkan kemacetan, kini dialihkan ke dalam Terminal Sungai Pinyuh yang berada tepat di samping SPBU. Namun, kondisi di dalam terminal justru berubah menjadi semrawut.
Pantauan di lapangan, truk-truk parkir tidak beraturan hingga menutup akses keluar-masuk terminal. Bahkan, pintu masuk terminal tertutup kendaraan yang mengantre solar subsidi, sehingga mengganggu operasional angkutan umum dan melumpuhkan akses mobilitas di terminal.
Kepala Terminal Sungai Pinyuh, Idham, mengatakan bahwa kebijakan memindahkan antrean ke dalam terminal awalnya dilakukan untuk mengurai kemacetan di jalan raya dan sempat berjalan efektif sepekan lalu.
“Awalnya antrean di jalan raya kita alihkan ke dalam terminal supaya lebih tertib, dan sempat berjalan baik. Tapi sekitar satu minggu terakhir, kondisi sudah tidak terkendali. Sopir sulit diatur, antrean jadi kacau,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Menurut Idham, lonjakan antrean terjadi sejak kenaikan harga solar non-subsidi. Pola antrean kini sangat bergantung pada ketersediaan BBM di SPBU.
“Kalau pasokan cepat datang, antrean cepat selesai. Tapi kalau terlambat, truk menumpuk dan tidak bisa diatur,” katanya.
Ia mengaku telah berulang kali mengimbau sopir agar tetap tertib dan kendaraan umum diprioritaskan masuk terminal, namun imbauan tersebut tidak diindahkan. Kondisi ini bahkan membuatnya kesulitan mengendalikan situasi di lapangan.
“Saya sudah lapor ke pimpinan dan minta solusi terbaik, supaya semua bisa dapat dan terminal tetap berfungsi normal,” tegasnya.
Di tengah kekacauan tersebut, dampak sosial mulai bermunculan. Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan keluhan seorang perempuan malam yang mengaku kehilangan penghasilan karena akses ke penginapan di dalam area terminal tertutup oleh truk-truk yang parkir.
Idham membenarkan bahwa aktivitas di dalam terminal ikut terdampak akibat padatnya antrean truk. Ia berharap ada langkah konkret dari pihak terkait agar distribusi BBM kembali lancar dan antrean dapat ditata dengan baik.
“Harapan kami ada solusi, supaya antrean tertib, tidak macet, dan aktivitas di sekitar terminal tidak terganggu. Selama enam tahun saya di sini, kondisi seperti ini baru pertama kali terjadi,” pungkasnya. *** (Bung Ranie)












