SAMBAS, JEJARING KALBAR – Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas mengungkap gejala abnormal yang dialami 15 siswa SD dalam kasus dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Selakau, Kalimantan Barat. Para siswa mengalami keluhan nyeri perut, mual, muntah, badan lemas, hingga pusing setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan di sekolah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. Ganjar Eko Prabowo, mengatakan laporan pertama diterima dari Puskesmas Selakau pada Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu sejumlah siswa datang dengan keluhan gangguan sistem pencernaan dan langsung mendapatkan penanganan medis.
“Anak sekolah yang datang ke puskesmas mengalami gangguan sistem pencernaan dengan nyeri perut, mual, muntah, badan lemas dan kepala pusing,” kata Ganjar.
Berdasarkan hasil wawancara petugas dengan guru dan siswa, gejala mulai muncul sekitar dua jam setelah mereka menyantap makanan dari program MBG. Menu yang disajikan saat itu terdiri dari nasi putih, ayam goreng tepung, tempe saus kecap, tumis kuning timun dan wortel, serta buah pisang.
Sebanyak 15 siswa dari SDN 06 Sungai Rusa dan SDN 08 Sungai Daun sempat menjalani perawatan dan observasi di Puskesmas Selakau. Namun seluruh siswa kini telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka berangsur membaik.
Menyusul peristiwa tersebut kata Ganjar, Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas bersama petugas surveilans puskesmas langsung melakukan penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri sumber gangguan pencernaan yang dialami para siswa. Sampel makanan juga telah diamankan dari sekolah dan lokasi pengolahan makanan untuk diuji di laboratorium.
Ia menjelaskan, hasil investigasi awal menunjukkan dugaan sementara kasus tersebut berkaitan dengan makanan yang berasal dari program MBG. Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dari Balai Besar POM Pontianak diterima.
“Hasil investigasi saat ini menyimpulkan dugaan sementara gangguan pencernaan tersebut bersumber dari makanan program MBG, namun kepastian penyebab masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya. ***












