KETAPANG, JEJARING KALBAR, – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ketapang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Virus Hanta setelah ditemukan satu kasus terkonfirmasi di Kalimantan Barat.
Masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus yang menjadi media penularan virus tersebut.
Imbauan itu disampaikan menyusul rilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terkait perkembangan kasus Virus Hanta di Indonesia. Berdasarkan data yang dipublikasikan, terdapat 23 kasus terkonfirmasi secara nasional dan satu kasus berasal dari Kalimantan Barat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, mengatakan penularan Hantavirus dapat terjadi melalui partikel dari urine, air liur, maupun kotoran tikus yang mengering dan terhirup manusia.
“Virus Hanta dapat menular melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering lalu terhirup manusia. Karena itu masyarakat harus rutin menjaga kebersihan rumah, termasuk gudang maupun plafon rumah yang jarang dibersihkan,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, langkah pencegahan paling efektif adalah menciptakan lingkungan yang bersih agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus. Ia juga menekankan pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat, terutama menjaga sanitasi rumah serta area penyimpanan bahan makanan.
“Pastikan makanan disimpan dalam wadah tertutup rapat. Lingkungan rumah juga harus bebas dari tumpukan barang atau sampah yang dapat menjadi sarang tikus,” katanya.
Dr. Feria turut mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat membersihkan area yang lama tidak digunakan, seperti loteng, gudang, maupun plafon rumah yang berpotensi terkontaminasi.
“Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi tercemar. Sebaiknya area berdebu disemprot cairan disinfektan terlebih dahulu sebelum disapu agar partikel virus tidak beterbangan di udara,” tambahnya.
Selain upaya pencegahan, Dinkes Ketapang meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, hingga gangguan pernapasan setelah berada di lingkungan yang banyak terdapat tikus.
Secara medis, Virus Hanta diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, serta Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Dr. Feria menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan surveilans aktif, terutama di wilayah yang dinilai memiliki risiko tinggi. Namun demikian, keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi langkah utama pencegahan.
“Kami akan terus melakukan surveilans aktif, terutama di wilayah dengan populasi tikus yang tinggi. Namun, peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi benteng pertahanan pertama yang paling efektif,” pungkasnya. *** (Yoga)












