KAYONG UTARA, JEJARIMG KALBAR, – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 13 Desa Kamboja Tengah, Kecamatan Pulau Maya Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Sabtu (2/5/2026), menuai sorotan. Pasalnya, makanan yang diterima siswa dilaporkan mengandung ulat.
Informasi tersebut mencuat setelah orang tua siswa membagikan foto menu MBG kepada media. Dalam kemasan omprengan, makanan terdiri dari nasi putih, tahu, serta sayur kacang panjang dan wortel yang diduga menjadi sumber munculnya ulat. Program MBG ini diketahui berasal dari dapur yang dikelola Yayasan Surya Gizi Lestari.
Seorang guru di sekolah tersebut membenarkan temuan itu. “Mohon maaf, makanan MBG hari ini ada ulat di dalam nasi dan oseng sayur kacang panjang serta wortel,” ujarnya.
Kejadian ini langsung memicu reaksi keras dari para orang tua murid. Mereka menilai persoalan ini serius karena menyangkut kesehatan anak-anak.
“Ini menyangkut konsumsi anak-anak, tidak bisa dianggap remeh. Harus ada tanggung jawab jelas dari pengelola,” kata salah satu orang tua siswa.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Kayong Utara, Adi Afrianto, mengaku belum menerima laporan resmi terkait kejadian tersebut saat dikonfirmasi.
“Saya belum tahu, baru dapat informasi ini. Akan saya cek terlebih dahulu,” ujarnya.
Adi menjelaskan, dapur yang dikelola yayasan tersebut setiap harinya mendistribusikan sekitar 2.307 porsi makanan hingga hari Sabtu. Ia juga menambahkan bahwa meski secara umum MBG dilaksanakan lima hari kerja, Kecamatan Pulau Maya Karimata mendapat pengecualian karena tingkat kerawanan gizi dan angka stunting yang masih tinggi.
“Di Pulau Maya angka stunting masih di atas 20 persen, sehingga distribusi makanan diperbolehkan sampai hari Sabtu,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala SPPG MBG SDN 13 Pulau Maya, Awaludin, mengakui adanya temuan ulat dalam sebagian makanan yang didistribusikan. Namun, ia menegaskan tidak semua porsi mengalami hal serupa.
“Benar ada ulat, tetapi tidak di semua omprengan. Diduga berasal dari kacang panjang,” ujarnya.
Pihak terkait diharapkan segera melakukan evaluasi dan pengawasan lebih ketat terhadap proses pengolahan makanan, guna memastikan keamanan dan kualitas konsumsi bagi para siswa. *** (Yoga)












