SAMBAS, JEJARING KALBAR – Tingginya surplus beras di Kabupaten Sambas menarik perhatian Pemerintah Sarawak, Malaysia. Pada 2025, surplus beras Sambas tercatat mencapai 62.251 ton, membuka peluang besar kerja sama perdagangan lintas negara. Pemerintah Sarawak bahkan menyatakan kesiapan menampung hingga 1 juta metrik ton gabah per tahun dari petani Sambas.
Ketertarikan itu disampaikan Menteri Industri Makanan, Komoditas, dan Pembangunan Wilayah Sarawak, YB Dato’ Sri Dr. Stephen Rundi Anak Utom, usai menjadi pembicara dalam seminar internasional bertema sinergi ketahanan pangan, ekonomi, dan keamanan perbatasan di Aula Kantor Bupati Sambas, Rabu (8/4/2026). Menurutnya, posisi Sambas sebagai daerah surplus beras menjadikan peluang kerja sama ini sangat terbuka, tinggal menunggu pembahasan lanjutan antarpemerintah (G to G) dan penyesuaian regulasi di Indonesia.
Bupati Sambas, H. Satono, menyambut positif peluang tersebut. Ia menilai ekspor gabah ke Sarawak dapat menjadi momentum peningkatan kesejahteraan petani, terutama dari sisi harga jual yang lebih kompetitif. Pemerintah daerah pun mendorong semua pihak untuk menangkap peluang ini secara serius agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selain itu, Satono menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman krisis global. Ia menyebut Sambas sebagai beranda negara memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga ketersediaan pangan, sekaligus mengembangkan potensi komoditas lain seperti pisang, kopi, dan kelapa. Menurutnya, keunggulan Sambas saat ini terletak pada peluang pasar yang terbuka lebar.
Data menunjukkan tren positif produksi beras di Sambas dalam tiga tahun terakhir. Produksi meningkat dari 104.955 ton pada 2023 menjadi 115.498 ton pada 2024, dan kembali naik menjadi 121.573 ton pada 2025. Sementara itu, konsumsi relatif stabil di kisaran 68–69 ribu ton pada 2023–2024, sebelum turun menjadi 59.321 ton pada 2025.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan surplus beras secara signifikan, dari 36.636 ton pada 2023 menjadi 45.619 ton pada 2024, hingga mencapai 62.251 ton pada 2025. “Ini menunjukkan Sambas tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daerah pemasok beras,” pungkas Satono. *** (Yak)












