Histori

Permata Viva Sungai Pinyuh Gavrielle Valeska Bidik Panggung Basket Nasional

×

Permata Viva Sungai Pinyuh Gavrielle Valeska Bidik Panggung Basket Nasional

Sebarkan artikel ini
Gavrielle Valeska
Gavrielle Valeska/Dok Viva Sungai Pinyuh

Sore itu, di sebuah lapangan basket di Sungai Pinyuh, suara pantulan bola terdengar berulang. Di antara pemain lain, tampak seorang remaja putri yang berlatih dengan penuh fokus. Ia adalah Gavrielle Valeska, talenta muda yang perlahan menapaki jalannya menuju panggung yang lebih besar.

Perjalanan Gavrielle dimulai dari hal sederhana. Saat berusia 8 tahun, ia kerap mengikuti kakaknya ke lapangan. Awalnya hanya duduk di pinggir, memperhatikan latihan. Namun rasa penasaran membuatnya mencoba memegang bola, berlari, dan meniru gerakan yang dilihatnya. Dari situlah kecintaannya pada basket tumbuh.

Waktu berlalu, ketertarikan itu berubah menjadi keseriusan. Memasuki usia 13 tahun, Gavrielle mulai berlatih lebih disiplin. Ia tidak lagi sekadar bermain, tetapi mulai memahami teknik, strategi, dan pentingnya konsistensi. Keringat dan kelelahan menjadi bagian dari rutinitasnya.

Gavrielle Valeska
Gavrielle Valeska/Dok Viva Sungai Pinyuh

Dengan tinggi 160 cm dan berat 58 kg, Gavrielle mampu menunjukkan performa yang kompetitif di lapangan. Ia dikenal lincah, memiliki semangat juang tinggi, dan tidak mudah menyerah. Kemampuannya pun mulai dilirik. Sejumlah sekolah, baik di Pontianak maupun luar Kalimantan Barat, menawarkan peluang beasiswa sebagai bentuk apresiasi atas bakatnya.

Perjalanan itu tidak ia tempuh sendiri. Klub VIVA Sungai Pinyuh menjadi tempatnya bertumbuh. Di sana, Gavrielle mendapatkan pembinaan yang membentuk mental dan kemampuannya. Latihan demi latihan dijalani, membawanya semakin percaya diri untuk bersaing di level yang lebih tinggi.

Di balik semua itu, ada keluarga yang selalu berdiri di garis terdepan. Orang tuanya, Meli Liu dan Maston, tak pernah lelah memberikan dukungan. Mulai dari semangat hingga kebutuhan perlengkapan latihan, semua diupayakan demi menjaga mimpi anaknya tetap hidup.

Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, Gavrielle tumbuh dalam lingkungan yang hangat dan suportif. Ia belajar bahwa mimpi besar tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diperjuangkan dengan kerja keras dan disiplin.

Kini, mimpinya kian jelas: menjadi pemain basket nasional, bahkan menembus level internasional. Bagi Gavrielle, basket bukan sekadar olahraga, tetapi jalan untuk mengukir masa depan dan membawa nama daerahnya dikenal lebih luas.

Di setiap langkah dan pantulan bola, tersimpan harapan. Dari sebuah lapangan sederhana di Sungai Pinyuh, Gavrielle Valeska terus berlari, mengejar mimpi yang suatu hari ingin ia wujudkan menjadi kenyataan. *** (Bung Ranie)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *