Di antara dentum tambur dan gemerlap lampion Cap Go Meh, seekor naga baru meliuk di jalanan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Tubuhnya panjang, warnanya menyala, dan saat kepalanya terangkat tinggi, sesuatu yang tak biasa terjadi, asap mengepul dari mulutnya, lalu air menyembur tipis ke udara. Penonton spontan bersorak, sebagian mundur setengah kaget, sebagian lagi justru mendekat karena penasaran.
Bagi Perkumpulan Naga Wu Long, tahun ini adalah kali pertama mereka bergabung dalam perayaan Cap Go Meh. Nama Wu Long dipilih bukan tanpa makna.
“Wu itu kebijaksanaan, Long itu naga. Jadi artinya naga kebijaksanaan,” ujar Zimmy Alexander Phua, Koordinator Lapangan Perkumpulan Naga Wu Long.
Namun yang membuat Wu Long cepat jadi buah bibir bukan hanya namanya, melainkan keberaniannya tampil berbeda. Di saat kebanyakan naga tampil gagah dengan gerakan yang ritmis dan pakem, Wu Long hadir dengan konsep yang lebih “hidup”.
Asap dan air yang keluar dari mulutnya menjadi kejutan tersendiri.

Ide itu bermula dari Ferdy, salah satu penggagas di balik layar. Ia ingin menghadirkan naga yang terasa lebih nyata, tidak sekadar properti pertunjukan yang kaku.
Gagasan tersebut kemudian direalisasikan oleh Ketua Naga, Tedy Sugianto, yang menerjemahkannya ke dalam rancangan teknis hingga benar-benar bisa diwujudkan. Dari percobaan efek hingga penyempurnaan detail, prosesnya tidak singkat.
Hasilnya adalah naga sepanjang 68 meter dengan 15 ruas termasuk kepala dan ekor, berdiameter sekitar 60 sentimeter. Untuk menggerakkannya dibutuhkan kekompakan puluhan orang.

Total ada 130 pemain yang terlibat, memainkan dua naga dan satu burung. Selain Wu Long sebagai naga utama, ada juga naga kecil dari Viva Sungai Pinyuh bernama Vi Long, serta burung Phoenix yang ikut meramaikan barisan.
Di balik tubuh raksasa itu tersembunyi perangkat yang membuatnya “bernapas”. Awalnya tim mencoba menggunakan aki dan power station untuk menyalakan lampu dan mendukung efeknya. Namun cahaya dirasa kurang terang.
Akhirnya diputuskan menggunakan genset agar warna naga lebih menyala dan efek asap serta air bisa tampil maksimal.
Respon masyarakat, kata Zimmy, di luar dugaan. Banyak yang bertanya-tanya dari mana asal asap dan air tersebut karena naga-naga lain tidak memilikinya. Rasa penasaran itu justru menjadi daya tarik. Setiap kali Wu Long melintas, kerumunan otomatis menebal.
Bahkan sebelum pawai besar digelar, Wu Long sudah lebih dulu diundang tampil pada tanggal 5 (kalender Tionghoa) di Ngabang. Sambutan masyarakat di sana disebut sangat tinggi. Mereka juga sempat tampil di Pendopo Bupati Landak sebelum pawai pembukaan.
Bagi perkumpulan yang baru pertama kali ikut Cap Go Meh, pengalaman itu menjadi pemacu semangat. Mereka tidak sekadar ingin hadir, tetapi ingin terus berinovasi. Harapannya, Wu Long ke depan bisa “berdiri tegak” dan memberi pengalaman yang semakin berkesan bagi penonton.
Di tengah tradisi yang terus dijaga, Wu Long datang sebagai warna baru. Seekor naga kebijaksanaan yang bukan hanya meliuk mengikuti irama tambur, tetapi juga membawa percikan kejutan di setiap semburannya. *** (Bung Ranie)












