KETAPANG, JEJARING KALBAR, – Ratusan mahasiswa bersama masyarakat menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Kabupaten Ketapang, Senin (1/9/2025) siang.
Dalam aksi tersebut, massa mengangkat berbagai isu nasional, diantaranya menyoroti rencana kenaikan gaji anggota DPR serta tindakan represif aparat terhadap demonstran di Jakarta yang berujung pada tewasnya seorang pengemudi ojek online.
Sementara isu lokal yang disuarakan meliputi pengajuan izin Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), persoalan antrian panjang di SPBU, perbaikan infrastruktur jalan, hingga masalah pendidikan.
Salah satu orator, Didit, menegaskan bahwa Pemerintah Daerah harus segera mengusulkan izin WPR. Menurutnya selama ini penambang emas rakyat hidup dalam kecemasan, selalu dianggap ilegal.
“Padahal mereka hanya ingin mencari nafkah. Kami minta Pemda Ketapang segera mengusulkan izin WPR agar rakyat bisa bekerja dengan tenang,” teriaknya, disambut sorak massa aksi.
Selain itu, mahasiswa menyoroti sulitnya masyarakat mengakses bahan bakar di SPBU. Menurut mereka, antrean panjang sering didominasi kendaraan bermuatan drum dan jeriken sehingga masyarakat kecil kian terpinggirkan.
“Bayangkan, warga yang hanya ingin isi motor harus antre panjang karena SPBU dikuasai penimbun. Ini harus ditertibkan,” ujar salah seorang orator lainnya.
Isu lain yang turut disampaikan adalah kondisi infrastruktur jalan di sejumlah kecamatan yang masih banyak mengalami kerusakan serta tingginya angka anak putus sekolah di Ketapang yang mencapai lebih dari 17 ribu jiwa.
Aksi ini juga melibatkan partisipasi masyarakat, termasuk seorang ibu rumah tangga yang ikut berorasi dan menyampaikan keluhan ekonomi keluarga pra sejahtera.
“Kami hidup serba kekurangan, penghasilan rendah, tapi tetap harus menyekolahkan anak-anak. Tolong DPRD dengar nasib kami, jangan hanya janji-janji,” ujarnya.
Dengan suara lantang, ia kembali menggugah simpati peserta aksi.
“Kami ini bukan minta kaya, kami hanya minta keadilan. Anak-anak kami jangan sampai putus sekolah hanya karena orang tuanya miskin. Kalau jalan rusak, kalau harga kebutuhan naik, yang paling susah ya kami-kami ini,” ucapnya disambut tepuk tangan meriah.
Aksi yang dimulai pukul 13.50 WIB dari titik kumpul Masjid Agung Al-Ikhlas itu berlangsung damai. Massa melakukan long march menuju Gedung DPRD Ketapang dan akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 16.30 WIB. *** (Yoga)












